Kesaksian Reza Fakour-Safa

REZA FAKOUR-SAFA
Seorang Muslim Shi'ah Yang Fanatik Menceritakan Sejarah Hidupnya
 
Ini adalah kisah nyata tentang seorang Muslim Shi'ah fanatik yang haus dan lapar akan Allah. Pencariannya akan kebenaran membawanya menyeberangi tiga benua. Imannya terhadap Islam tidak tergoyahkan sampai pada hari ia mendengar tentang kebenaran Kristus Yesus, dan mulai mengalami kasih-Nya dan kehidupan-Nya. Pada saat kamu membaca kisah ini, kamu juga bisa menemukan jalan yang menuntun kepada . . . . . . . HIDUP SEJATI !
Reza
Reza Fakour-Safa dilahirkan dan dibesarkan di Iran, seorang Muslim Shi'ah yang taat sampai pada hari ia menerima Kristus pada tahun 1980. Sejak itu ia telah memberitakan Injil di lebih dari tiga puluh negara. Di mana pun Reza berkhotbah, ia melihat ribuan orang diselamatkan dan mukjizat kesembuhan karena kuasa dalam Nama Yesus.

MUKJIZAT!
mukjizat
mukjizat
Seorang yang buta
menjadi celik!
Seorang anak yang
timpang menjadi sembuh!
Di atas sebuah panggung kayu yang sederhana di Karaköl, sebuah kota berpenduduk Muslim di bekas negara Uni Soviet, berdiri seorang pengkhotbah. Ribuan orang Muslim memandangnya dengan sungguh-sungguh, ingin sekali mendengar khotbahnya. Kebanyakan dari mereka belum pernah satu kali pun mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus sepanjang hidup mereka. Dia mulai menyampaikan pesan Injil yang sederhana, menunjuk kepada Yesus sebagai Juruselamat satu-satunya yang dapat menolong mereka.

Suasana kebaktian penginjilan di ruang terbuka itu penuh dengan pengharapan ketika dia mengundang orang-orang yang ingin menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka datang ke depan panggung. Hampir seluruh pengunjung bergerak maju ke depan panggung. Pengkhotbah tersebut memimpin mereka dalam doa pengampunan dosa dan keselamatan. Kemudian dia berdoa dalam Nama Yesus bagi orang-orang yang sakit, dan seketika terjadi ratusan mukjizat penyembuhan. Seorang wanita yang kedua telinganya telah tuli selama 15 tahun menjadi bisa mendengar kembali dengan sempurna. Beberapa anak kecil yang lahir pincang mulai berjalan dengan normal untuk kali pertama dalam hidup mereka. Orang-orang buta menjadi melek dan melihat. Seorang anak kecil yang mengalami masalah pada tulang pinggulnya sembuh seketika. Ibunya menangis terharu dan sukacita melihat putranya melepaskan tongkat penopangnya dan berlari mengitari panggung.

Dalam kebaktian penginjilan tiga hari tersebut, hampir 20.000 orang Muslim menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat; dan ratusan orang yang sakit penyakit disembuhkan oleh kuasa Allah. Rombongan yang menyertai pengkhotbah ini membagikan secara cuma-cuma ribuan Alkitab kepada petobat baru, yang ingin tahu lebih banyak mengenai Yesus.

Pengkhotbah tersebut bernama Reza Fakour-Safa. Dia dilahirkan dan dibesarkan di Iran. Seorang Muslim Shi'ah yang fanatik, taat beribadah lima waktu sehari semalam, tidak pernah meminum minuman yang memabukkan, dan taat berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun dengan semua upayanya ini, Reza tidak memperoleh damai yang sejati. Dengan keinginan yang menggebu-gebu untuk menyingkapkan kebenaran yang sesungguhnya mengenai Yesus Kristus, dia memutuskan untuk mencarinya.

Inilah, diceritakan oleh dirinya sendiri, kisah nyata mengenai hidupnya yang luar biasa.
Reza sedang berkhotbah
Reza sedang berkhotbah
HARI INI MANUSIA di seluruh dunia mencoba menutupi dosa mereka dengan melakukan kebajikan, melaksanakan ibadah agama mereka. Mereka mencoba menutupi perasaan bersalah dan kesadaran akan dosa dengan melakukan apa yang mereka percayai sebagai pekerjaan baik. Mereka sembahyang, berpuasa, bersedekah kepada orang miskin, dan sebagainya. Namun jauh di dalam hati mereka tahu bahwa mereka masih berdosa. Manusia dilahirkan dalam dosa dan salah.23 Tidak ada obat buatan manusia yang dapat menyembuhkan rasa bersalah. Ketika Pilatus, Gubernur Romawi di Yudea, menyatakan Yesus harus disalibkan, ia meminta air dan mencuci tangan dari dosa yang baru dilakukannya.24 Dosa tidak dapat dibasuh dengan air. Aku telah mencoba membasuh dan menutupi dosaku selama bertahun-tahun dengan air yang disebut agama. Tetapi hanya ada satu cara yang dapat menghapuskan dosa manusia; DENGAN PERCAYA DALAM DARAH YESUS, ANAK ALLAH YANG HIDUP. 25

Yesus tidak datang untuk menolong kita menutup-nutupi dosa kita. Ia datang untuk menghapus bersih dosa . . . Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diriNya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korbanNya. 26 Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai korban untuk menebus dosa dunia, domba yang sempurna, pendamai bagi dosa-dosa kita. Agama tidak dapat melakukan pengorbanan seperti itu. Itu hanyalah suatu simbol atau suatu jiplakan tetapi pengorbanan yang benar dan nyata hanyalah melalui domba Allah, Yesus Sang Kristus. Untuk menerima Yesus sebagai korban satu-satunya untuk penebusan dosa kita ialah menerima kesaksian-kesaksian Allah. Menolak Yesus merupakan penolakan terhadap jalan satu-satunya yang disediakan Allah bagi manusia untuk pembasuhan dan pengampunan dosa.

Alasanku menulis buku ini ialah untuk menyaksikan pengorbanan akbar Tuhan kita. Keinginanku ialah untuk meyakinkan kamu tentang kebenaran ini. Hanya ada satu Allah dan satu kebenaran. Yesus berkata: Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.27

Mungkin Anda bertanya, "Apakah kebenaran itu?" Hanya ada satu jawaban untuk hal ini. Kebenaran adalah Yesus dan Yesus adalah kebenaran! Segala sesuatu di luar Yesus hanyalah bayangan belaka. Yesus satu-satunya yang pernah mengumumkan: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.28 Kebenaran inilah yang memerdekakanku. Yesus menebus dan membebaskan manusia dari dosa dengan darah-Nya.29 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.30 Hidup sejati hanya dapat diperoleh melalui Dia. Segala sesuatu di luar Yesus hanyalah kegelapan total. Yesus berkata: Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.31

Yesus datang untuk memberi manusia kehidupan: Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, . . .32 Dia katakan. Segala sesuatu di luar Yesus hanyalah keberadaan tanpa kehidupan. Terdapat perbedaan besar antara kehidupan dan keberadaan. Seorang yang terbaring dan sedang sekarat karena penyakit yang tidak tersembuhkan memiliki keberadaan tetapi tidak memiliki kehidupan. Seorang yang berada dalam perahu yang sedang tenggelam mempunyai keberadaan tetapi tidak memiliki kehidupan. Alkitab mengatakan: Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.33 Percaya kepada Yesus adalah untuk memiliki hidup yang benar, HIDUP SEJATI !

Agama dan perbuatan agamawi tidak dapat menyelamatkan seseorang. Kamu boleh mengatakan, "Tetapi saya percaya kepada Allah." Hal itu tidak cukup sobat! Alkitab mengatakan: Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.34 Satu-satunya jalan datang kepada Allah hanya melalui Salib Yesus. Darah Yesus merupakan jalan pengampunan dosa. Nama Yesus merupakan jalan keselamatan. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.35 Hanya Yesus Juruselamat manusia.

Allah telah memberikan Yesus untuk menyelamatkan dunia bukan untuk menghukumnya. Agama manusia menghukum manusia. Penghukuman merupakan salah satu masalah terbesar yang manusia hadapi dalam hidup. Pada suatu hari orang-orang yang beragama membawa seorang perempuan kepada Yesus. Wanita ini tertangkap tangan melakukan perzinahan. Mereka ingin supaya wanita ini dilempar dengan batu. Mereka menanyakan pendapat Yesus. Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu, jawab Yesus kepada mereka. Kemudian mereka semua meninggalkan tempat itu, satu demi satu, tinggal Yesus dan wanita tersebut. Yesus bertanya kepadanya: Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawab perempuan itu: Tidak ada, Tuhan. Lalu kata Yesus: Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.36 Sesungguhnya, hanya Yesus satu-satunya yang dapat melempari perempuan itu dengan batu karena Ia tidak pernah berdosa. Tetapi Ia tidak menghukumnya. Yesus mengampuninya. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.37

Hanya ada satu Jalan, satu Kebenaran, satu Juruselamat, dan satu Allah. Segala yang lain hanyalah buatan manusia dan tidak baik.

Alkitab mengatakan, Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.38 Ia adalah Tuhan yang tidak berubah. Yesus masih melakukan hal yang sama dengan yang Ia lakukan dua ribu tahun yang lalu. Aku telah melihat Ia menyatakan diri-Nya di setiap negara dimana aku memberitakan Injil kerajaan Allah. Aku telah menyaksikan bagaimana Yesus membuka telinga yang tuli. Aku telah melihat bagaimana yang timpang dan lumpuh berlari dan melompat, yang buta melihat, dan yang bisu berbicara.39 Beberapa orang telah melihat Yesus dengan mata fisiknya selama kampanye kami. Yang lain merasakan sentuhan-Nya dan disembuhkan dan dibebaskan.

Yesus hidup dan masih bekerja menyelamatkan dan menyembuhkan manusia. Ia satu-satunya yang dapat menyelamatkan. Keselamatan juga meliputi penyembuhan sakit penyakit. Alkitab mengatakan: Pujilah TUHAN , hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu.40 Yesus berwenang mengampuni dosa dan berkuasa menyembuhkan setiap penyakit. Dialah yang mempunyai kemenangan atas Iblis, dosa, dan kematian. Tiada manusia lain yang dapat mengalahkan Iblis kecuali Yesus. Pada Yesus telah diberikan semua kuasa di Surga dan di bumi.41 Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dialah satu-satunya Penebus manusia. Apa pun yang engkau perlukan, Allah akan mencukupkannya melalui karya keselamatan-Nya. Apa pun masalah yang engkau hadapi, Allah akan menunjukkan jalan keluarnya. Jika ada dosa atau sesuatu yang jahat di dalam hidupmu, Allah akan mengampunimu dan mengangkatnya. Jika engkau mempunyai sakit penyakit atau cacat pada tubuhmu, Allah akan menyembuhkan engkau sekarang. Tanpa pengecualian, Ia akan menemui setiap orang yang datang pada-Nya dengan iman. Melalui iman pada-Nya dan Firman-Nya seseorang dapat melihat Dia dan kemuliaan-Nya.42 Yesus sedang berdiri di depan pintu. Barangsiapa yang mendengar suara-Nya dan membukakan pintu, Ia akan masuk.43

Untuk diselamatkan bukalah pintu hatimu untuk Yesus dan mempercayai pengorbanan-Nya di kayu Salib dan mempercayai kebangkitan-Nya.44 Dengan iman engkau dapat mengundang Yesus masuk ke dalam hatimu. Dengan iman dalam darah-Nya engkau akan menerima pengampunan dosamu. Dengan iman pada Firman-Nya engkau dapat dilahirkan kembali dan menerima hidup yang dari Allah. Dengan iman dalam kuasa Nama Yesus, engkau akan terbebas dari kuasa dosa, sakit penyakit, dan Iblis.45 Melalui iman dalam Yesus, Anak Allah, engkau dapat menyenangkan hati Tuhan.

Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.46

Bab 1
Iran Tanah Airku
"EVERT," KATAKU melalui gemertak gigiku, "aku harus menggantitempat dudukku." Aku sangat kedinginan. Suhu udara saat itu 20oC dibawah nol. Kami dalam perjalanan di atas bus tua, kemungkinanpeninggalan dari perang dunia kedua. Evert mengerutkan diri dalamjaketnya dengan menundukkan kepala dengan dagu, mulutnya dimasukkanke dalam kerah jaketnya. "Baik," katanya. Kami tidak banyak berbicaraselama lima jam perjalanan melewati pegunungan ini.

Aku mendapatkan tempat duduk yang kosong di bagianbelakang bus sebelah seorang wanita Romania. Hatiku sangat penuhdengan kasih dan cinta kepada orang-orang yang miskin dan tertekanseperti ini. Aku telah melakukan perjalanan di 24 negara dan belum pernahmelihat orang yang semiskin dan tertindas seperti di Romania. Akubertanya dalam hati apa yang sedang kulakukan di sini, tetapi betapa hatikuterbakar oleh kasih. Oh, betapa terima kasihku pada Tuhan bila akuberpikir kembali darimana aku berasal.

Aku dilahirkan di kota Teheran, ibukota Iran, yang berarti 'tanahdari bangsa Aria', dalam Injil terkenal sebagai Persia. Teheran adalahsebuah kota yang besar dengan kira-kira tujuh juta penduduk.

Aku berasal dari keluarga yang cukup besar. Ayahkumempunyai istri yang lain yang daripadanya ia mendapatkan empat anaksebelum ia bertemu ibuku. Ibuku berumur empat belas tahun ketikamenikah. Masih sangat muda dan menikah dengan pria yang berumur duakali umurnya adalah sangat tidak mudah bagi ibuku, tetapi tradisi sepertiitu sangat biasa pada waktu ia masih muda. Ibuku berasal dari keluargayang besar, namun sederhana bila dibandingkan dengan ayahku yangberlatarbelakang sangat rumit.

Ayahku adalah pusat keluarga, seorang lelaki yang berkuasa,pekerja keras, dan mudah marah. Kadang-kadang ibuku menyebutnyadiktator. Profesinya adalah pedagang kain yang berpengalaman sukses dangagal. Ia juga sangat berbakat sebagai penyair dan banyak mengetahuipuisi-puisi Persia kuno.

Ayahku benar-benar pengagum dan pakar sastra Persia. Darilingkungan sarjana, ia adalah salah seorang yang berkemampuan terbaikdalam bidang puisi tradisional. Ia sangat suka menulis dan minum chai(teh yang dibuat dari Samavar). Ada persaingan antara kami dengantulisannya. Ibuku tidak terlalu mengagumi ataupun menyemangatipekerjaan ayahku dan susahnya, ini menjadi salah satu sebab daribanyaknya pertengkaran yang sering terjadi di rumah. Itu sepertikemelaratan seorang pelukis dan kebutuhannya untuk melukis.

Ada beberapa periode yang berbeda dalam hidup ayahku dandua gaya hidup yang utama. Ada waktu ketika ia merupakan seorang yangsuka pesta, minum alkohol, dan berpuisi ria dengan teman-temannya; danada waktu ketika ia menjadi pemeluk agama yang fanatik. Dalam awalbelasan tahun umurku, aku teringat melihat banyak teman ayahku datangke rumah. Mereka akan bersama-sama berpesta, minum alkohol, membacapuisi, dan makan terus-menerus sampai larut malam. Kami semua akanbekerja keras mempersiapkan makanan untuk orang-orang ini. Ibuku akanberpeluh seharian dalam dapur, membuat beberapa makanan yang lezatuntuk tamu-tamu. Ayahku sangat kasar dan mudah marah. Pada masakecilku, aku paling menyukainya bila ia telah mabuk karena ia akan sangatlembut dan tenang denganku. Sejauh ingatanku, aku akan mendapatpelukan darinya hanya ketika ia sedang mabuk. Tetapi pada waktu yangsama ia akan sangat keji dan memukul ibuku dan kami semua menangissedih.

Kenangan terburukku adalah waktu aku masih belasan tahun.Keadaan keuangan kami sangat buruk. Ayahku mempunyai banyak hutangsehingga ia harus meringkuk di penjara selama beberapa waktu. Saudarikuyang tertua jatuh sakit karena ketakutan. Sifat ayahku yang peminum danpemarah menyebabkan kami tidak betah di rumah. Melihatnya memukulibuku dan melihat ibuku menangis tanpa harapan membuat akumembencinya. Tidak ada hubungan bapak-anak di antara kami. Ia tidakpernah memanggilku "nak", hanya namaku, "Reza", dan akumemanggilnya agha (tuan) dan semakin lama semakin ada jarak di antarakami. Aku kehilangan rasa hormat padanya. Hanya ada rasa bersaing danpenolakan di antara kami. Kadang kala ketika kami sedang bertengkar iamengutuki atau memukul aku. Aku ingin lari dari rumah tetapi kemudianaku berpikir tentang ibuku. Aku lebih seperti anak ibuku daripada ayahku.Kapan saja aku merasakan penolakan dan kesepian mendatangiku, akuakan naik bus ke rumah saudariku tertua. Ia dan keluarganya sangat berartibagiku. Mereka memberiku rasa hormat dan cinta yang tidak kudapati dirumah. Dalam budaya kami diajarkan untuk menghormati orang yang lebihtua, terutama orang tua kami. Jadi bilamana ayahku bertengkar denganku,aku hanya bisa diam dan menunduk lalu keluar dengan menangis danberbicara pada Tuhan, yang aku tidak pasti apakah Ia mendengarkanku.

Pada akhir masa belasan tahunku, ada perubahan yang sangatdrastis pada tingkah laku ayahku. Ia berhenti berpesta dan minum, danmenjadi sangat religius. Ada beberapa kejadian dalam hidupnya yangmenggoncangkannya antara dunia nyata dan Islam. Keluarga kamibiasanya tidak percaya ia akan lengket padanya, tetapi kali ini sangatserius. Seperti peribahasa Persia, kepalanya telah dituangi air pertobatan. Ayah menjadi seorang Muslim yang fanatik. Bagi orang-orangMuslim yang fanatik, Islam bukan hanya agama melainkan gaya hidup. Ituadalah suatu sistem yang merupakan kombinasi elemen politik, sosial,ekonomi, dan agama.

Ada dua aliran di antara orang Muslim yaitu Shi'ah dan Sun'ni.Sembilan puluh satu persen penduduk Iran adalah Shi'ah. Di antara keduaaliran, mereka adalah yang paling fanatik dan militan dalam menjalankansyariat (hukum Islam). Ini adalah salah satu sebab kenapa terjadiperubahan yang drastis di negara ini setelah jatuhnya Shah Iran.

Ayahku sangat berpengetahuan tentang syariat. Ia mengetahuibahasa Arab dan sangat memahami Al-Quran. Ia menjaga sholatnya dankadang kala sholat shab. Ayahku adalah pengagum Ali sebagaipahlawan terbesar Islam setelah Muhammad dan mempunyai cinta yangtidak tergoyahkan dalam hatinya pada imam-imam Islam. Tetapi, tidak adasuatu hubungan yang dekat atau persekutuan dengan Allah. Allah ituterlalu besar untuk berhubungan dengan manusia. Nabi dan para imamlahmakhluk yang terdekat dengan Allah. Pernyataan cinta pada merekamerupakan pernyataan cinta pada Allah, dan itulah sebabnya mengapaayahku banyak menulis pemujaan terhadap Ali.

Tetapi menjadi religius dan fanatik tidak mengubah karakterdan temperamen ayahku. Meskipun di luar kelihatan berubah, di dalammasih sama saja, masih ayahku yang dahulu.

Sejauh yang aku ingat, aku selalu percaya keberadaan Allah.Aku mulai berlatih menjadi Muslim yang setia sejak kecil. Aku selalumengikuti hukum dan peraturan. Aku sholat lima kali sehari dan berpuasaselama bulan Ramadhan. Ada cinta dalam hatiku kepada Allah yang akupercaya kuterima dari ayahku, yang meskipun manusia yang keras,mempunyai cinta yang dalam dan kelembutan hati kepada Allah. Akuteringat kadang kala aku terbangun di tengah malam dan melihat diamembaca Al-Qurannya dan menangis. Aku tidak pernah melihat diamenangis kecuali ketika ia sedang berdoa sendirian pada Tuhan. Ia sangatbangga padaku ketika aku menjalankan puasa selama 30 hari, yang manatidak banyak anak muda dapat lakukan pada waktu itu.

Menurut hukum, orang yang berpuasa tidak diijinkan makanatau minum selama ada matahari. Saudari mudaku dan akulah yangberpuasa terbanyak. Ayah dan ibuku tidak melakukannya karena tubuhmereka tidak cukup kuat untuk menahannya. Kami makan dua kali sehariselama bulan puasa, sekali sebelum matahari terbit dan sekali setelahmatahari terbenam. Ibu akan bangun lebih pagi, kira-kira dua jamsebelumnya, untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk kami. Akuakan makan, khususnya minum sebanyak mungkin sebelum datang pagidan kemudian kembali tidur. Jika bulan Ramadhan bertepatan denganmusim panas, puasa menjadi sangat sulit karena panasnya udara danpanjangnya hari. Kadang kala badanku menjadi dehidrasi dan aku merasasangat lemah dan mau pingsan. Ada orang-orang yang merusak tubuhnyadengan cara ini. Aku juga tahu beberapa orang yang minum air secarasembunyi-sembunyi, tetapi aku menolak berbuat seperti itu. Aku inginmenyukakan hati Allah dengan semua kekuatanku, maka aku kadang kalamengambil selang air dan menyirami tubuhku yang kepanasan. Pada sorehari ibuku akan menyiapkan masakan Persia yang sangat lezat dengan supdan salad, membuat semuanya siap pada waktu buka puasa. Segera setelahazan (panggilan untuk bersholat) terdengar di televisi, aku akan menyikatmakanan seperti singa yang lapar. Oh, aku merasa sangat puas.

Ada bulan suci yang lain untuk Muslim Shi'ah yang disebutMuharam. Muharam adalah bulan ratapan untuk mengingat kematian paraimam sebagai martir. Selama Muharam, orang berpakaian gelap danberpesta ratapan. Beberapa mengadakan rhozeh (berkumpul untukmendengar cerita tragedi tentang para martir) di rumah mereka. Keluargadan kerabat kami sangat aktif selama Muharam. Bibiku bernazar akanmemberi makanan pada orang miskin dan ibuku biasanya yang memasak.Bersama dengan pamanku, mereka akan membuat perapian di halamanbelakang dan memasak berkilo-kilo beras dengan ketel danmembagikannya pada tetangga-tetangga.

Selama Muharam umumnya orang-orang yang religiusmenyewa seorang mullah untuk beberapa jam. Kerabat dan tetanggaakan datang dan mendengarkan cerita tentang para martir dari imam, yangdiceritakan oleh mullah sementara orang-orang menangis dan memukuldada mereka. Aku kadang kala bergabung dengan rhozeh tetapi aku tidakpernah sungguh-sungguh menyukai pekerjaan menangis. Bagiku itukelihatan seperti munafik karena beberapa peratap tidak pernah menjalankan sholat.

Selama Muharam aku akan bergabung dengan kelompokpemuda lokal pada malam hari dan pergi untuk sinehzani (barisan peratap).Kami akan berbaris melalui jalan-jalan dan gang di lingkungan kamisambil membawa bendera yang dicelup darah domba kurban. Dengancambuk pendek, kami akan memukul kepala kami dan bahu sambilmenyanyikan nyanyian duka untuk kematian para imam. Kelompokpemuda lainnya yang berani juga berbaris melalui jalan-jalan ratapan.Tetapi ada perbedaan. Mereka fanatik dan buas. Menggunakan cambukkecil, kami akan memukul diri sendiri untuk memperlihatkan penyesalankami, tetapi orang-orang itu menggunakan pedang pendek. Dengan bajuputih dan kepala gundul, mereka berbaris sepanjang jalan menyanyikanhimne ratapan dan memukul kepala mereka dengan sebilah pedang.Pertumpahan darah ini mengaburkan penglihatan. Beberapa dari merekaterinfeksi di otak dan meninggal.

Kadang kala aku menunaikan ibadah haji bersama-samakeluargaku ke kota Mashad di mana kedelapan imam Islam tinggal. Disana aku akan mengajukan doaku yang terpenting, membuat nazar, danberdoa terus-menerus menghadap Mekah.

Bagaimanapun, menjalankan semua syariat bukanlah pekerjaanmudah. Sholat dan puasa, ratapan, dan begitu banyak peraturan untukmencuci dan membersihkan diri, pembatasan makanan, dan lain-lain yangmerupakan beban berat. Aku berkeinginan melaksanakan semuanya.Betapa aku ingin menyukakan hati Allah!

Tetapi menjalankan semua hukum dan peraturan Islam danmencoba melakukan yang baik tidaklah cukup. Aku masih merasakekurangan rasa damai dan kesukaan di dalam hatiku. Ada sesuatu yanghilang dalam hidupku! Meskipun kerabat dan teman selalu memujikusebagai seorang yang sempurna dalam agama, hidup benar di hadapanAllah, dalam batinku aku mengetahui aku tidak dekat pada-Nya.

Bukan berasal dari keluarga kaya telah membuatku berpikirbahwa jawaban dari kekosongan hatiku terletak pada uang dan posisissosial yang terhormat. Iran berada diambang pengembangan ke arahmasyarakat modern. Pendidikan tinggi merupakan tujuan dari banyakorang muda. Ibu menginginkan aku menjadi seorang doktor. Tentu saja itumerupakan impian setiap ibu. Ayah menginginkan aku mengambil alihpekerjaannya dan menjadi kaya. Aku sendiri menginginkan keduanya. Akuselalu berimpian untuk membuat mereka bangga atasku, dan memilikicukup uang untuk mendukung mereka pada masa tua mereka. Sektorswasta di Iran tidak menyediakan jaminan sosial atau pensiun. Anaklah yang akan bertanggungjawab atas orang tua mereka bila mereka telah tua.

Pada tahun 1978 mulai terjadi ketidakstabilan politik di negarakami. Tidak lama kemudian kami mendengar teriakan demonstrasi di jalan-jalan di Teheran dan di lingkungan kami: "Turunkan Shah," dan "Khomeiniadalah imam kami". Itu adalah pertama kalinya aku mendengar namaAyatollah Khomeini dalam hidupku. Jeritan dan teriakan sertapertumpahan darah telah mengguncangkan dasar-dasar dari pemerintahanShah Iran. Khomeini menjadi semakin terkenal setelah ia mengirimkankaset khotbahnya melawan Shah dari rumah sementaranya di Paris di manaia diasingkan. Orang-orang memperhitungkannya sebagai pemimpin masadepan dan hanya dia seorang yang mampu menjatuhkan kekuatanpemerintah dan tentaranya. Mereka akan merasa bebas dari tekananpemerintah Shah. Untuk diriku sendiri dan banyak Muslim yang fanatik,Khomeini adalah imam bukan dalam ranking "Yang Keduabelas", tetapimeskipun demikian orang yang terdekat dengan Allah di muka bumi dankami menyatakan dia sebagai pemimpin kami dan pahlawan.

Pada musim panas 1978 aku lulus SMA dan terpaksamembantu ayahku dalam bisnisnya. Perselisihan di antara kami makinmeningkat. Aku juga tidak lulus ujian masuk universitas, membuat studilanjut di Teheran menjadi mustahil. Meskipun demikian timbul niat dalamhatiku untuk meninggalkan negara ini guna melanjutkan pendidikan di luarnegri. Aku tahu bahwa keluargaku tidak akan mampu mendukungku untukpendidikan lebih lanjut, maka aku harus mencari tempat di mana aku dapatbelajar dan bekerja pada waktu yang sama. Setelah mengumpulkaninformasi, aku membuat keputusan untuk melamar di sebuah perguruantinggi di Texas, USA. Keluargaku tidak menanggapi serius ketikakukatakan pada mereka kesempatan untuk pergi ke USA. Tetapi ketikakabar diterimanya aku di perguruan tinggi tersebut mengejutkan merekasemua.

Bab 2
Perjalanan ke Barat
HARI BESAR itu akhirnya tiba. Waktunya telah tiba untuk meninggalkan tanah airku dan keluargaku. Semua orang datang ke bandara untuk mengantarkan keberangkatanku. Ada banyak yang datang: saudara-saudariku dan keluarga mereka masing-masing serta teman-teman. Kerumunan besar dengan muka yang sedih. Ibukulah yang tersedih dari semuanya. Ia menangis dan menyatakan cintanya terus-menerus. Aku adalah anak kesayangannya. Lagi pula aku adalah anak lelakinya satu-satunya.

Ikatan keluarga sangat kuat di Iran. Kami selalu saling mengunjungi. Kunjungan sangat terbatas pada hari-hari kerja, namun pada hari Jum'at kami akan mengunjungi seseorang atau mendapat tamu. Kami akan bermain, berkelakar, tertawa, minum chai banyak-banyak, dan banyak makan-minum masakan Persia. Pembicaraan umumnya berpusat pada orang-orang yang tidak hadir, suatu kebiasaan yang umum di Iran. Kami tidak pernah berbicara tentang politik atau cuaca atau yang lain seperti itu. Di atas semua itu ada begitu banyak keluarga kami sedemikian hingga kami dapat membuat kota kecil atau suku tersendiri. Adalah tidak sukar menjadi keluarga yang erat seperti kami. Sebagai saudara termuda aku menerima perhatian lebih dan cinta dari saudara-saudariku yang lain. Aku selalu di seputar mereka dan tidaklah mudah untuk meninggalkan mereka semua serta pergi ke negara asing, menjadi orang asing, dan sendirian.

Meskipun dengan hati berat untuk meninggalkan keluargaku, ada rasa gembira di dalam hatiku. Pergi ke dunia yang lain dan mempelajari sesuatu yang baru itu sangat menggembirakan hati dan aku merasa pasti akan bebas dari tekanan ayahku. Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri dan membuktikan bahwa aku dapat berbuat sesuatu untuk hidupku.

Ada banyak orang Amerika di dalam pesawat yang meninggalkan Iran, mereka pulang ke rumahnya. Pada waktu itu ada ratusan ribu orang Amerika yang tinggal di Teheran. Lokasi geografis Iran yang strategis merupakan kartu as bagi Amerika yang ingin bermain dengan Rusia. Tetapi ada ketakutan bahwa pemerintah Shah akan jatuh dan banyak orang Amerika meninggalkan Iran. Ada banyak demonstrasi anti Amerika dan kerusuhan.

Tempat duduk di sebelahku diduduki seorang Amerika. Ini adalah pertama kali aku berhubungan dengan orang dari negara lain! Aku segera mulai melatih kemampuan bahasa Inggrisku. Pindah ke Amerika merupakan tantangan yang menyenangkan. Banyak dari apa yang kuketahui tentang Amerika kupelajari melalui film-film Hollywood.

Impianku menjadi kenyataan. Aku senang budaya dan bahasa asing. Di sekolah, bahasa Inggris merupakan pelajaran terbaikku. Betapa aku mendapat perasaan bahwa suatu hari aku akan melakukan perjalanan dan bekerja di negara lain.

Pesawat mendarat di London untuk mengisi bahan bakar. Di tempat transit kami diberi tiket untuk makan dan minum. Dengan tiket di tangan, aku masuk ke bar untuk mendapatkan minuman, wanita di belakang meja kasir menanyaiku sesuatu yang tidak dapat kumengerti. Karena gengsi untuk memintanya mengulangi pertanyaan, aku menjawab, "Ya". Wanita itu tertawa, berbisik kepada pelayan yang lain, dan memberiku sepuluh gelas minuman! Aku baru tahu bahwa aku harus belajar berbicara dengan bahasa yang tepat.

Perhentian berikut adalah New York dan merupakan pengalaman pertamaku dalam kejutan budaya. Pesawat mendarat di bandara Kennedy. Aku harus mendapat penerbangan lanjut dari terminal yang lain ke Houston, Texas. Ada begitu banyak orang dengan begitu banyak perbedaan latar belakang dan warna kulit. Semua kelihatan menjadi berukuran ganda; orang, mobil, dan bangunan.

Setelah melewati imigrasi, aku naik taksi bersama satu keluarga Iran yang juga ingin ke Houston. Sopir taksi meminta bayaran enam kali lipat dari yang tercatat pada argo. Aku menolak untuk membayar dan akan memanggil polisi, tetapi keluarga Iran tersebut sangat gugup dan kaya. Mereka tidak mau bertengkar dan mereka membayar ongkos lebih tersebut. Kami tiba di Houston pukul tiga pagi. Keluarga Iran yang setaksi denganku mengantarkanku ke losmen untuk menghabiskan malam pertamaku di Amerika.

Keesokan harinya aku mendaftar di sekolah bahasa dan mencari kamar sewaan. Pada waktu bertanya-tanya, aku bertemu seorang Muslim dari Iran yang menawariku bantuan dan mengatakan bahwa aku dapat tinggal dengan kelompoknya. Aku sangat berterima kasih kepada Allah yang mempertemukanku dengan orang sebaik itu. Hal ini menolongku mengatasi rasa takut akan tersesat sebagai orang asing.

Berenam kami tinggal di rumah yang disebut "rumah Islam". Disebut demikian karena rumah itu juga terbuka untuk orang Muslim yang datang dari negara bagian yang lain. Kami sering mendapat tamu dari mana-mana. Betapa aku merasa seperti di rumah sendiri. Sedikitnya aku berada di sekitar orang-orang dari negara yang sama dan orang-orang yang juga Muslim. Tetapi mereka terlalu banyak terlibat dalam politik. Sejak hari aku tiba mereka mulai menyalahkanku karena aku telah meninggalkan Iran dan tidak tinggal untuk melawan Shah. Aku bertanya dalam hati pada diriku sendiri, "Kalau mereka begitu ingin untuk berperang, mengapa mereka sendiri tidak pulang untuk berperang?" Namun aku sangat berterima kasih kepada mereka. Mereka memberi tempat padaku untuk tinggal, menunjukkan tempat-tempat di sekitar, dan juga mendapatkan pekerjaan untukku.

Aku tidak aktif dalam politik. Itu adalah permainan yang aneh bagiku dan aku tidak berkeinginan untuk bermain. Yang aku lakukan hanya mengikuti kabar tentang Khomeini. Situasi di Iran makin buruk dari hari ke hari. Banyak yang terbunuh dalam demonstrasi melawan pemerintah. Penyebabnya banyak dan setiap korban membuat jatuhnya Shah semakin pasti.

Hari-hariku sangat sibuk. Selama siang a

Bab 3
Revolusi


HATIKU PENUH sukacita dan harapan ketika pesawat mendarat di bandara Mehrabad. Meskipun baik jika jauh dari keluarga, aku sangat merindukan mereka. Menjadi diriku sendiri selama satu setengah tahun telah mengajariku sedikit pelajaran tentang kehidupan. Aku ingin memberi pada keluargaku, terutama pada ayahku, kesempatan yang lain.

Sejak revolusi aku mendengar banyak hal yang baik tentang Iran. Bagaimana seluruh negara dan rakyat terpengaruh. Aku telah mendengar bagaimana orang-orang menjadi baik satu sama lainnya dan mereka saling membantu satu sama lainnya dengan suka cita. Aku ingin menjadi bagian dari itu. Aku ingin hidup di suatu tanah di mana yang lemah tidak diinjak-injak, di mana terdapat kebebasan untuk semua orang, dan di mana tidak terdapat orang yang jahat. Betapa itu suatu impian! Aku tidak sabar melihatnya dengan mataku sendiri.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebelumnya aku tidak mengira ada perubahan besar yang terjadi. Perubahannya sangat dramatis. Sikap orang-orang dan kelakuannya sangat berbeda. Mereka bukan orang yang sama yang aku kenal. Dengan sedikit pengecualian, hampir semua orang yang kukenal punya kepribadian dan identitas yang baru. Bahkan cara orang berbicara telah berubah.

Kenyataan ini terlihat padaku sehari setelah kedatanganku. Saudara iparku mengantarku ke bandara guna mengambil bagasiku yang hilang sehari sebelumnya. Kami menunggu berjam-jam di kantor tuntutan bagasi. Segera menjelang giliran kami, mereka mau menutup kantor. Kami mulai berdebat dengan petugasnya. Saudara iparku marah pada petugas tersebut dan mengatakan bahwa petugas itu melawan revolusi. Petugas itu pun marah dan memanggil polisi untuk mengusir kami dari gedung tersebut. Karena tidak ingin ada keributan, aku meminta saudara iparku untuk tidak melayani petugas itu serta menyarankan untuk pergi. Melihat ia keluar, petugas tersebut melompati mejanya dan mengejarnya. Petugas itu melompatinya dan meninju mulutnya. Aku berlari ke petugas tersebut dan mencoba berbicara dengan dia, tetapi ia memukulku pula. Aku jadi sangat marah padanya dan hilang kendali serta mulai berkelahi. Aku memukulnya sangat keras sehingga matanya biru lebam. Polisi datang dan ingin menahan kami. Untunglah kami dapat membereskan semuanya dan tidak didenda. Aku berkata pada diriku sendiri, "Pesta penyambutan yang mengecewakan."

Kelihatannya setiap orang muak terhadap yang lain. Politik telah menjadi isu utama kehidupan sehari-hari. Banyak kelompok-kelompok politik berdiri. Hampir setiap orang punya pendapat yang berbeda tentang bagaimana menjalankan negara ini. Ada pemuda-pemuda di setiap sudut Universitas Teheran, di dalam dan di luar, sedang menjual surat kabar mereka dan buku serta berdebat satu sama lain. Mereka ada yang dari sayap kanan dan kiri; Marxisme, Leninisme, Maoisme, Kapitalisme, Muslim Moderat, dan Muslim Ortodok. Setiap orang percaya pada garis politik yang berbeda yang mereka sebutkan. Aku mendengar orang-orang berbicara tentang garis politik di dalam taksi, pasar, di jalan, dan di mana-mana. Itu terjadi sedemikian hingga orang membuat humor tentang hal itu.

Perbedaan faham politik telah menyebabkan perpecahan di antara teman-teman baikku. Dahulu kami rela mengorbankan diri demi orang lain. Sekarang persahabatan mereka telah beralih ke debat politik serta saling membenci. Betapa berubahnya! Muslim Ortodok menjadi makin berani dan fanatik, orang-orang terpelajar telah menjadi Komunis. Ada perselisihan tajam di antara kedua golongan. Aku sangat terkejut kala suatu hari aku melihatnya, yaitu ketika temanku membawaku ke Universitas Teheran. Di sana ada kerumunan orang-orang muda terpisah dalam dua kelompok utama yang berselisih satu sama lain. Mahasiswa-mahasiswa universitas bergandengan tangan di dalam pagar universitas. Di luar universitas, sejumlah Muslim fanatik memegang tongkat, rantai, dan pisau siap berkelahi dengan para mahasiswa. Aku tidak dapat mempercayainya. Apa yang telah terjadi pada orang-orang ini? Darimana kebencian ini berasal? Mengapa mereka begitu haus darah? Apa yang telah terjadi dengan orang-orang ini yang dahulunya terkenal keramah-tamahannya? Mereka adalah orang-orang yang dahulu telah berkorban untuk orang lain! Tidakkah telah cukup darah tercurah karena revolusi? Kebebasan macam inikah yang mereka perjuangkan? Apa yang akan terjadi? Aku meminta pada temanku agar segera menjauhi tempat itu. Aku dapat mencium darah dan kebencian. Ini bukan yang sesungguhnya ingin kulihat. Tentu saja keluargaku pun tidak terkecuali dari perubahan itu. Ada perpecahan di antara saudara-saudariku. Salah satu dari mereka telah bercerai dan ada ketegangan terus-menerus di antara mereka.

Aku bingung. Tiada kedamaian dan ketentraman dan aku tidak tahu jawabnya lagi. Harapanku atas tanah impian telah berubah menjadi mimpi buruk. Aku merasa kekosongan yang dalam di dalam diriku. Betapa aku merasa bahwa aku tidak berada di tempat yang benar. Aku berpikir untuk meninggalkan negara ini lagi. Tetapi ke mana? Adakah tempat di mana dapat kutemukan kedamaianan dan arti hidup?

Ibuku mengerti kegelisahanku. Ia adalah sahabat terbaikku dan mengerti aku dengan baik. Ibu ingin menolongku dengan caranya sendiri. Ia ingin aku menetap dan tenang di Iran. "Waktunya telah tiba bagimu untuk membuat keluargamu sendiri," katanya padaku suatu hari ketika kami berbelanja bersama. Ia bahkan telah punya pilihan seorang gadis dalam keluarga kami.

Menikahi seorang gadis dari keluarga jauh merupakan hal yang biasa dalam budaya Persia. Ketika seseorang menikah, ia tidak hanya menikahi gadis tersebut, melainkan juga keluarga gadis tersebut. Biasanya akan dipilih gadis dari keluarga yang baik, suatu keluarga yang kondang dan mapan. Hal ini sangat penting bagi orang Persia karena seorang gadis akan dipengaruhi keluarganya. Karena orang umumnya mengetahui keluarganya sendiri, menikah di dalam keluarga adalah yang terbaik.

Pernikahan dan adatnya sangat rumit pada budaya Timur dibandingkan budaya Barat, demikian pula di Iran. Tradisi dan proses upacara pernikahan di Iran sangat unik dan tidak terlupakan. Di Barat, banyak pasangan mulai dengan saling jatuh cinta. Di jaman dahulu, banyak pernikahan tidak dimulai dengan roman, karena pernikahan diatur oleh keluarga.

Saat ini, pernikahan dimulai dengan percintaan rahasia antara pasangan. Jika mereka jatuh cinta dan segala sesuatu berjalan baik, mereka memutuskan untuk menikah. Lalu si lelaki harus mengatakan pada orang tuanya bahwa ia telah menemukan calon istrinya. Lalu orang tuanya mencari informasi tentang si gadis dan keluarganya. Jika informasi tersebut telah disetujui oleh orang tua si lelaki mereka kemudian pergi mengunjungi si gadis dan keluarganya.

Umumnya orang tua si gadis lebih bersuka cita dalam hal ini daripada orang tua si lelaki. Mereka juga ingin anak gadisnya tetap perawan sampai ia menikah. Kehilangan keperawanan ibarat kehilangan nama baik keluarga. Seorang gadis yang kehilangan keperawanannya kehilangan kesempatan untuk mendapat suami.

Calon pengantin wanita melakukan yang terbaik dalam hidupnya untuk mendapat restu dari orang tua si lelaki pada hari mereka berkunjung. Ia akan menunjukkan yang terbaik dari hidupnya. Ia memasak masakan yang terbaik yang telah dipelajarinya, dan melayaninya dengan penuh perhatian. Ia tahu bahwa calon mertuanya dapat membuat semuanya berbeda. Orang tua tertentu bahkan dapat mematikan seluruh permainan. Tentu saja orang tua si gadis juga mencari informasi tentang pendidikan si lelaki, pekerjaan, dan keluarganya.

Ketika kedua orang tua dari keluarga itu telah merestui satu sama lain, mereka mengatur hari khostegari (tawar-menawar tentang bantuan dalam pernikahan). Hal terutama yang didiskusikan adalahmerieh. Merieh adalah sejumlah uang yang pihak mempelai lelaki setuju untuk bayarkan kepada pihak mempelai wanita bila pernikahan harus diceraikan olehnya. Tentu saja, makin tinggi pembayaran makin kecil resiko untuk si lelaki menceraikan istrinya.

Setelah orang tua dari pasangan baru telah setuju denganmerieh, maka hampir semua hal telah beres. Setelah hari khostegari ini, akan diatur hari pesta pertunangan. Mempelai lelaki membeli cincin dan perhiasan untuk diberikan kepada mempelai wanita pada hari pesta pertunangan. Itu merupakan hari yang besar dan penuh kesukaan. Jahaziehadalah tradisi yang lain yang sangat dihargai pihak mempelai lelaki, yakni perabot dan peralatan rumah tangga bagi pasangan baru. Itu akan mencakup barang-barang seperti karpet, kulkas, oven, dan peralatan masak-memasak. Mempelai pria yang miskin akan melewati pernikahan dengan menghabiskan semua tabungannya dan dapat dikatakan bangkrut. Maka, jahazieh yang baik sangat diharapkan. Jahazieh kemudian dibawa ke rumah pasangan baru beberapa hari sebelum menikah.

Hari pesta itu sendiri diawali dengan upacara pernikahan yang dilakukan oleh seorang mullah, biasanya pada salah satu rumah tersebut. Sore itu pesta besar akan diselenggarakan di ruangan yang disewa. Malam yang penuh musik, tari, makan, dan hiburan.

Gadis yang disarankan ibuku sungguh sangat menggoda. Ibuku telah memilih gadis yang tidak mudah ditolak. Ia adalah cucu bibiku dari pihak ayah, sangat halus, lembut, cekatan, dan cantik.

Sebagai pemuda aku sangat tertarik padanya. Aku teringat ketika mereka datang mengunjungi rumah kami. Aku selalu gugup melihat padanya. Aku takkan berbicara banyak padanya. Gengsiku takkan membiarkanku menunjukkan ketertarikanku padanya. Maka suatu hari aku memberanikan diri mengajaknya keluar. Aku terkejut karena ia menerima ajakanku dan aku menemukan bahwa ia lebih tertarik padaku daripada aku tertarik padanya. Kami pergi menonton bioskop dan makan roti serta es krim setelah itu. Itu adalah pacaranku yang pertama dan terakhir dengannya karena aku tidak tertarik kepadanya.

Tetapi aku berpikir menikah akan menolongku dalam situasi ini, mengatasi rasa bingung dan kekosongan hatiku. Mempunyai keluarga sendiri akan menghentikan pencarianku. Hal itu akan membuatku tetap sibuk mendukung mereka. Mempunyai tanggung jawab akan memberiku sesuatu untuk dicapai dalam hidup, mengisi semua hariku tanpa waktu untuk duduk dan bermimpi di siang hari.

Aku tidak mencintainya atau sedikitnya tidak punya perasaan yang sama padanya seperti kala aku masih belasan tahun. Tetapi aku menyukainya dan gaya hidupnya. Dia memiliki sesuatu yang aku sebut sebagai 'kelas'. Ibu dan semua saudariku sangat menyukainya. Mereka semua berharap aku akan setuju menikah dengannya. Aku tidak siap untuk menjalankan hal seperti itu. Tetapi sebenarnya dinikahkan kedengarannya menyenangkan. Merasa bahwa aku tidak terlalu melawan hal itu, ibu dan saudari-saudariku serta ibunya mengajak mengadakan perjalanan keluarga ke Mashad. Tentu saja mereka juga mengajakku serta!

Ide mereka berjalan dan pancing mereka tergigit. Aku setuju untuk pergi dengan keluargaku untuk khostegari. Gadis itu bertunangan denganku dan aku setuju merieh setengah juta toman (setoman kira-kira sama dengan 1/7 dollar). Kami setuju bertunangan dan menunda pernikahan sampai aku lulus universitas. Itu berarti menunggu beberapa tahun. Aku mendapat pekerjaan di perusahaan dagang saudaraku laki-laki sebagai penerjemah dan aku menghabiskan semua waktu luangku dengan tunanganku dan keluarganya.

Nah, kerabatku sangat gembira atas pertunangan itu, tetapi tidaklah demikian denganku. Perasaanku masih tetap sama. Bertunangan tidak mengisi kekosongan yang besar di dalam diriku. Aku tidak ingin menghapus impian-impianku seperti yang dilakukan saudara-saudariku yang lain. Beberapa dari mereka telah puas dengan pernikahan dan keluarganya. Yang lain tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya punya keberadaan. Aku tidak ingin hanya punya keberadaan. Aku ingin hidup. Aku ingin mencapai sesuatu dalam hidupku dan mengetahui tujuan hidupku, punya arti, dan tujuan.

Dorongan itu semakin kuat padaku untuk meninggalkan negri ini lagi. Tetapi ke mana aku bisa pergi? Aku masih punya sisa visa tiga tahun ke Amerika tetapi kasus penyanderaan tidak berubah. Hubungan kedua negara tidak bertambah baik. Presiden Carter telah memulangkan beberapa orang Iran dan tidak lama lagi mereka akan memulangkan yang lain. Aku tahu bahwa aku takkan diterima di sana. Itu pasti.

Mencari beberapa kemungkinan, aku menemukan bahwa salah seorang saudara laki-laki temanku berada di Swedia. Maka dari semua negara Eropa, aku putuskan pergi ke Swedia dan tinggal di sana sampai kasus penyanderaan diselesaikan. Lalu aku akan kembali ke Amerika menyelesaikan studiku.

Aku sangat lelah dan situasi di Iran tidak bertambah baik. Aku harus pergi. Lingkungan baru dan tantangan baru akan menjaga pikiran dan hatiku tetap sibuk dari kesadaran akan kekosongan hati.

Sekali lagi berita tentang kepergianku membawa banyak air mata dari mata orang-orang yang kucintai. Kali ini aku harus pula menghibur tunanganku. Ia mengadakan pesta perpisahan di rumahnya. Saudara-saudariku dan banyak teman diundang.

Aku tidak jujur dan adil dalam menyatakan perasaanku padanya. Menerima begitu sedikit cinta dan perhatian dariku setelah aku meninggalkan Iran, ia menyatakan pertunangan dibatalkan.

Keluargaku melihatku pergi ke bandara membuatku sangat sedih. Aku tahu akan makan waktu sangat lama sebelum aku dapat bertemu mereka kembali. Aku tidak tahu apa yang salah. Aku mengambil keputusan tidak pulang ke rumah walau apa pun yang terjadi padaku.
 

Bab 4
Yesus Adalah Anak Allah
DALAM PESAWAT menuju ke Swedia, aku bertemu seorang pelajar Iran yang menceritakan kepadaku lebih banyak tentang gaya hidup di negara-negara Skandinavia. Aku tidak punya ide tentang apa yang sedang aku perbuat. Hidupku seperti kapal rusak yang ditiup angin ke semua arah dan sekarang tertiup ke Laut Utara. Aku masih mengharap dan menunggu akan adanya sesuatu yang baik terjadi atasku. Aku bukanlah petualang melainkan mencari sesuatu. Kenapa aku tidak puas dan senang seperti keluargaku yang lain? Aku bisa menikah dan mendapat pekerjaan di Iran dan tinggal dekat dengan keluargaku. Apa yang ada di dalamku yang memaksaku pergi seperti makhluk kehausan mencari air? Apa yang hilang? Apakah masa depanku akan bahagia? Aku meragukan jangan-jangan pendapat ayahku benar tentang aku.

Dengan pikiran-pikiran seperti ini berkitar di kepalaku, pesawat mendarat di bandara Kopenhagen, Denmark. Aku menumpang bus ke stasiun pusat kereta api dan naik kereta api ke Swedia. Di Stokholm, ibukota Swedia, aku berganti kereta ke Uppsala, sebuah kota sekitar 70 km ke utara.

Saudara temanku sangat terkejut kala aku datang. Ia tidak pernah mendengar bahwa aku akan datang. Tetapi ia membiarkan aku tinggal bersamanya sampai aku mendapat tempat untuk diriku sendiri. Belakangan aku berhasil menyewa kamar di kompleks apartemen mahasiswa.

Rakyat Swedia dan budayanya serta bahasanya serasa baru bagiku dan kelihatan aneh, meskipun mereka sangat damai. Aku jarang melihat mereka berkelahi atau bertengkar satu sama lain. Cuaca sangat berbeda dengan tanah airku. Musim dingin sangat dingin, gelap, dan panjang. Namun demikian selama musim panas yang hanya beberapa bulan, aku percaya ini adalah tempat terindah di bumi.

Gaya hidup orang-orang Swedia memberiku kejutan budaya yang lain. Moral mereka, sikap, dan hubungan antar manusia banyak berbeda dengan tempat di mana aku bertumbuh. Orang sering tinggal bersama tanpa menikah. Aku tidak dapat mempercayai mataku sendiri ketika aku melihat orang-orang setengah telanjang mandi sinar matahari tidak hanya di pantai, tetapi bahkan di rumah tetangga. Aku sering bertemu orang yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Mereka takkan bersusah-susah membicarakan-Nya dan mempunyai sangat beragam sifat terhadap agama, secara umum. Banyaknya pelayanan sosial dari pemerintah membuat rakyat sangat bebas satu sama lain. Itulah hal-hal yang kontras yang aku lihat. Di Iran jika seseorang menganggur dan miskin, kerabat dan keluarga dekatnya akan berkumpul dan menolongnya. Tetapi di Swedia, pelayanan sosiallah yang memperhatikan kebutuhan mereka. Maka orang-orang sangat bergantung pada pertolongan pemerintah daripada keluarganya dan tidak pula pada Tuhan. Hal ini sangat baru bagiku.

Teman-teman Iranku yang baru tidak banyak bicara tentang politik atau agama. Mereka hanya inginkan kesenangan. Ada pelajar-pelajar Iran yang lain di Swedia yang sangat aktif dalam politik dan selalu mengkritik Khomeini dan pemerintahannya.

Seperti biasa, aku berdebat dengan orang-orang Komunis Iran ini. Aku membenci mereka dengan rasa kasihan. Bagiku mereka seperti robot yang disuapi teori Lenin, Mao, dan Marxis. Mereka tidak pernah bicara dalam bahasa yang normal. Seseorang harus punya banyak pengetahuan untuk dapat mengerti mereka. Bagiku mereka itu najis dan aku tidak akan menyentuh mereka. Setelah beberapa waktu aku lelah berdebat dengan mereka.

Suatu hari aku diundang pesta di atas atap kompleks pelajar. Ada beberapa pelajar pertukaran Amerika di sana. Karena aku mengerti bahasa Inggris lebih baik daripada Swedia, aku mulai berbicara dengan mereka. Di antara mereka terdapat seorang gadis yang tidak minum anggur seperti yang lain. "Kenapa kamu tidak minum anggur?" tanyaku dengan penuh ingin tahu. Aku tidak minum anggur karena hukum Islam. "Aku seorang Kristen," jawab gadis itu. Jawabannya sungguh mengejut-kan aku. Aku mengira bahwa semua orang di Barat adalah Kristen. Di Iran terdapat orang-orang Kristen Armenia yang bahkan punya toko minuman keras! Aku tidak tahu apa-apa tentang ke-Kristenan kecuali yang aku pelajari dari Al-Quran dan pengajaran Islam.

Gadis Amerika itu menjelaskan tentang imannya pada Kristus dan apa yang kitab suci nyatakan tentang Yesus. Berbicara dengannya menimbulkan banyak pertanyaan dalam diriku. Aku berdebat dan bertahan dalam pendapat tentang Yesus. Ia mengatakan bahwa ia percaya "Yesus adalah Anak Allah". Itu menghujat Allah! Aku telah mendengar melalui Al-Quran bahwa Allah bukanlah manusia. Ia tidak berawal dan tidak berakhir. Al-Quran mengatakan bahwa Allah tidak diperanakkan dan tidak beranak. Bagaimana Allah dapat mempunyai anak? Siapa istri-Nya? Bagiku apa yang gadis itu percayai sangat naif dan najis.

Aku mempelajari ada penghormatan sangat besar terhadap Yesus dalam Islam, tetapi hanya sebagai Nabi yang datang sebelum Muhammad. Para Muslim percaya bahwa ada lima Nabi yang setiapnya mereka percaya, mempunyai sebuah buku: Adam, Nuh, Musa, Yesus, dan Muhammad. Muhammad adalah Nabi terakhir dan penggenap wahyu Allah.

Aku katakan padanya bahwa aku percaya menurut apa yang Al-Quran katakan, bahwa Yesus lahir dari perawan Maria, bahwa Yesus adalah Nabi sebelum Muhammad, dan bahwa Yesus tidak disalibkan seperti yang orang Kristen percayai. Dia menceritakan banyak hal tentang Alkitab yang diantaranya ada yang bertentangan dengan Al-Quran. Aku katakan padanya bahwa aku percaya kitab Injil tidak ditulis oleh Yesus sendiri. Murid-murid-Nya menuliskan itu dan kami orang Muslim percaya bahwa itu telah diubah selama bertahun-tahun oleh orang-orang yang berbeda.

Aku membantah dengan keras pendapat gadis itu dan kami berdebat sepanjang malam hari dari pesta itu. Ia mengatakan padaku tentang Injil dan Yesus dan aku mengatakan padanya tentang Al-Quran dan Muhammad. Kelihatannya diskusi kami takkan pernah berakhir. Aku sangat tertarik untuk melanjutkan berargumentasi. Gadis itu kelihatan sangat naif, tidak berpendidikan, dan sangat sederhana. Namun demikian ia sangat berbeda dari rekan-rekannya. Ia tidak bergaul untuk berkencan, tidak minum minuman keras, dan juga tidak berbicara dalam kata-kata kotor seperti yang lain. Ada kemurnian di dalamnya yang membuatku sangat tertarik. Aku ingin tahu lebih banyak tentang ke-Kristenan.

Kuputuskan suatu hari untuk pergi ke katedral tua di kota guna berbicara dengan pastornya. Aku bertemu seorang pemuda yang mengenakan kain gelap di sana, seorang yang sangat lembut. Aku memanggilnya 'Bapa'. Aku pelajari itu dari film bioskop. Aku berbicara padanya dalam bahasa Inggris karena aku belum menguasai bahasa Swedia. Aku mengatakan padanya bahwa aku bersedia mengepel lantai katedral sebagai ganti untuk belajar lebih dalam tentang ke-Kristenan. Ia tidak tertarik pada usulku untuk membersihkan lantai, tetapi ia memperkenalkan padaku temannya, seorang Amerika. Orang Amerika tersebut mengatakan padaku ada sepasang orang Swedia yang namanya Lars dan Borje. Aku menelepon mereka dan mengundang mereka untuk berkunjung.

"Betapa anehnya pastor-pastor ini," pikirku pada diriku sendiri. Berdiri di depanku ketika kubuka pintu, dua pria yang kurus tinggi, berlawanan dengan bayanganku semula tentang pastor. Mereka kelihatan sangat bahagia dan sangat bersahabat, keduanya nampak berbeda dari orang-orang Swedia secara umum. Yang seorang berjambang merah dan mereka berpakaian sederhana dengan jeans. "Selamat datang, Bapa," kataku ketika kami bersalaman. Mereka tersenyum. "Kamu tidak perlu memanggil kami 'Bapa'," jawab mereka. Kemudian aku tahu bahwa mereka bukan pastor dan juga bukan Katolik. Mereka hanya memiliki cinta kepada bangsa-bangsa lain dan ingin menceritakan pada mereka tentang Yesus.

Lars dan Borje sangat bersahabat. Selama beberapa bulan aku tinggal di Swedia, aku belum pernah bertemu orang Swedia lainnya yang begitu bersahabat dan bahagia. Lars, dengan jambang merahnya, bermain gitar dan mereka menyanyi tentang Yesus. Kami minum teh dan berbicara banyak. Aku punya jutaan pertanyaan. Untuk setiap pertanyaan mereka bukakan Injil dan mendapatkan jawabnya. Mereka kelihatan penuh perhatian dan mau mendengar.

Suatu hari Lars dan Borje mengundangku ke rumah mereka. Mereka bertetangga dan bekerja di gereja yang sama. Aku menerima undangan mereka dan mengunjungi mereka. Mereka kelihatannya orang-orang sederhana, tidak terperangkap budaya materialisme. Aku sangat terkesan pada kasih dan perhatian mereka. Mereka punya damai dan kesukaan yang khusus. Mata mereka bersinar cerah yang tidak pernah kulihat pada orang-orang yang lain. Suatu sinar yang murni dan ikhlas. Mereka berbicara terutama tentang Allah dan Yesus. Mereka tidak berbicara di belakang orang-orang dan tidak menggunakan bahasa yang kotor. Dengan tulus mereka tertarik padaku dan ingin tahu lebih banyak tentang aku. Aku merasa sungguh-sungguh di rumah untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Pada awalnya orang-orang ini kelihatan lebih naif dan lemah daripada orang-orang Swedia yang kukenal. Tetapi makin aku mengenal mereka, makin aku melihat perbedaan antara mereka dengan orang-orang kebanyakan. Mereka juga mengundangku ke gereja mereka dan kelompok pelajaran Alkitab. Persahabatan kami bertumbuh dan aku sering mengunjungi mereka.

Semua yang dilakukan orang Kristen ini sangat berbeda dari agamaku dan pengajarannya. Mereka membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri sedangkan aku belajar bahasa Arab guna membaca Al-Quran. Mereka berdoa dengan sederhana dalam bahasa mereka sedangkan aku berdoa dalam kata-kata yang sama dalam bahasa Arab lima kali sehari, 365 hari setahun. Mereka membaca dan mempelajari Alkitab lebih sering daripada aku (atau Muslim lain yang kuketahui) membaca Al-Quran. Mereka sering mendoakan satu dengan lainnya. Mereka memberi dengan murah hati kepada yang membutuhkan tanpa mengharapkan itu kembali. Aku tidak melihat kebencian atau kepahitan dalam mereka. Aku tidak pernah mendengar mereka membicarakan secara negatif tentang orang lain. Mereka tidak berbohong, bahkan berbohong kecil pun tidak. Mereka selalu ingin mengampuni jika diminta. Persahabatan mereka tidak berdasarkan atas akan mendapat sesuatu dari seseorang, malainkan murni dan jujur.

Suatu hari Lars dan Borje memberiku Alkitab bahasa Persia, bahasa ibuku. Aku tidak pernah membaca Alkitab sepanjang hidupku. Aku membacanya dengan penuh rasa ingin tahu. Aku terpesona pada Yesus, pada pekerjaan-Nya, dan pada kata-kata-Nya. Cerita tentang Dia sangat berbeda dari nabi yang lain. Yesus kelihatannya lebih daripada apa yang aku mengerti hanya sebagai nabi. Aku tidak menemukan dalam Alkitab kisah Yesus membunuh atau berperang melawan orang lain. Tidak ada cerita tentang istri dan Ia tidak membangun kerajaan di bumi bagi diri-Nya sendiri. Aku terkagum akan kasih-Nya dan mukjizat yang dibuat-Nya. Ia membangkitkan orang yang mati, menyembuhkan yang bisu dan tuli, dan memberi penglihatan pada yang buta. Ada kekuasaan dalam kata-kata-Nya yang tidak ada pada nabi biasa. Rakyat mengikuti Dia bukan karena Dia mempunyai pedang tetapi karena kata-kata-Nya. Ia tidak pernah berdosa. Membaca Injil mengubah sikapku pada Yesus.

Ada tenaga dan energi pada orang-orang Kristen ini yang begitu nyata. Ada cahaya dan kemurnian yang tidak dapat kulihat bahkan pada Muslim yang paling fanatik.

Aku sangat bangga menjadi seorang Muslim dan tidak ingin menjadi naif dan lemah. Islam adalah agama untuk melawan kejahatan dan kebatilan. Aku selalu membenci ketidakbenaran dan mencintai apa yang benar. Aku selalu menganggap diriku orang baik. Aku tidak ingin melukai seseorang. Aku berpikir bahwa aku telah hidup sesuai hukum Allah. Aku mencintai Tuhan dan melakukan apa yang benar, yang terbaik menurut pengetahuanku. Sesuatu yang aneh terjadi padaku, sesuatu yang tidak dapat kumengerti. Makin aku mengetahui orang-orang Kristen ini dan membaca Alkitab, semakin aku tidak menyukai diriku sendiri. Pikiranku yang terdalam tentang diriku sendiri sedang berubah. Sepertinya ada selubung yang dilepaskan dari mataku sehingga aku dapat melihat diriku sendiri dengan lebih jelas. Aku melihat kenyataan diriku dan ternyata semua tidak menarik. Sepertinya makin aku mengenal Yesus melalui Alkitab dan pengikut-Nya, makin jelas gambaran yang kuterima tentang Allah dan diriku sendiri. Aku seperti berjalan ke arah terang dari ruang yang gelap. Mata pengetahuanku mulai terbuka.

Pada waktu yang sama suatu ketakutan yang mengerikan mulai tumbuh di dalam diriku. Suatu keraguan, suatu peringatan. Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika Muhammad tidak dikirim Allah? Pikiran seperti itu membuat tulangku menggigil. Aku takut akan Allah, takut akan menolak Nabi-Nya yang suci. Aku akan menjadi orang kafir yang jatuh dalam kehangatan murka Allah. Allah akan menghancurkan aku dalam neraka.

Siapa yang sanggup melawan Allahnya orang Islam? Mereka yang menolak Nabi Muhammad telah dibunuh dan dikutuk Allah. Pikiranku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan dan aku sangat bingung.

Makin aku mencari untuk mendapatkan kebenaran, makin ketakutanku meningkat. Aku tidak dapat tidur di malam hari di kamar gelap. Aku harus membiarkan lampu menyala. Aku sering mendapat mimpi buruk dan bangun pada tengah malam dengan penuh ketakutan. Aku biasanya bisa tidur dengan nyenyak namun sekarang aku harus bangun dengan sesedikit mungkin suara dan gerakan.

Makin aku melihat kehidupan orang-orang Kristen ini, cinta dan kemurnian mereka, makin aku diyakinkan bahwa aku tidak murni. Aku selalu berpikir mereka adalah najis. Aku akan mencuci tangan setelah berjabat tangan dengan mereka. Aku selalu mencuci mulutku jika makan makanan mereka. Tetapi di sini aku telah menipu dan mencurangi mereka, dan sebagai balasan mereka mengampuni dan mengasihiku. Aku melihat bahwa aku ini orang berdosa. Aku menganggap yang disebut dosa adalah perbuatan besar seperti membunuh atau merampok bank. Ketika aku melakukan kesalahan, aku mengatakan kepada diriku bahwa itu tidak salah. Jika aku berzinah, aku menghitungnya sebagai kebutuhan alamiah. Mengutuk adalah bahasa umum dari setiap orang dan daftar seperti itu terus bertambah panjang.

Kehidupan orang-orang Kristen ini yang Injilnya sudah dimanipulasi dan yang Nabinya lahir sebelum Muhammad, lebih baik dariku. Bagaimana mungkin sesuatu yang salah dan palsu membuat begitu banyak orang yang baik? Bagaimana mungkin mereka bisa begitu penuh kasih dan pengampunan? Bagaimana mungkin mata mereka bisa bersinar sedemikian cerah? Dengan pikiran-pikiran ini aku terus-menerus bergumul.

Namun yang terburuk dari semua itu adalah aku tidak menyukai diriku sendiri. Aku tidak lagi bangga dengan keberadaanku. Aku merasa seperti manusia berdosa. Bagaimana aku dapat menjadi manusia yang lebih baik? Apa yang bisa memurnikanku? Aku iri pada gaya hidup orang-orang Kristen ini. Aku yang melakukan begitu banyak hal. Aku yang menjalankan semua ibadah agama, sembahyang, puasa, dan ratapan. Aku yang menjalankan peraturan atas makanan dan minuman. Apakah ada kekuatan untuk mengubah aku? Aku sangat kebingungan.

Segalanya berantakan dalam hidupku: keluargaku, keuanganku, rencana-renanaku, dan sekarang bahkan diriku sendiri. Akankah menolong jika aku berpindah agama? Apa yang akan terjadi jika aku menjadi Kristen? Ide ini mulai menderingkan bel di dalam hatiku dan menakutkan aku atas kematian. "Pikirkan konsekuensinya!" kataku pada diriku sendiri. Aku akan kehilangan keluarga dan teman. Semua saudara-saudaraku akan menertawakan aku. Aku akan terhitung sebagai kafir atau pengkhianat yang harus dihukum mati. Bagaimana mungkin aku menolak dan meninggalkan Muhammad, Nabi Allah? Bagaimana mungkin Islam itu salah dengan begitu banyak orang mengikutinya? Bagaimana seseorang dapat menolak wahyu Islam? Betapa takut dan bingungnya aku.

Ya Allah, mana yang benar? Bagaimana mungkin seorang Muslim menjadi Kristen? Kelihatannya itu mungkin! Suatu hari aku diperkenalkan kepada seorang Pakistan yang telah beralih menjadi Kristen dari Islam di Pakistan. Sebagai hasilnya ia telah dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh ayahnya sendiri. Ia melarikan diri dan datang ke Swedia sebagai pengungsi. Ia adalah orang Muslim pertama yang pindah agama yang aku tahu. Tetapi ia seorang Muslim Sun'ni. Aku belum pernah mendengar seorang Muslim pun dari Iran yang beralih agama! Kami beraliran Shi'ah, aliran yang fanatik. Jika mereka lakukan itu terhadap seorang Sun'ni, apa jadinya denganku?

Pikiran seperti ini terus-menerus ada selama berbulan-bulan dan keraguanku terhadap Islam makin bertambah dan akhirnya, dengan seluruh kejujuran, aku membuat pertanyaan sederhana terhadap Allah: "Perlihatkan padaku kebenaran."

"Ya Allah," kataku, "aku tidak memilih menjadi Muslim. Aku telah diajar dan diberitahu dari kecil bahwa Islamlah jalan kebenaran, sama seperti seorang Cina yang diajarkan bahwa Buddhalah jalan kebenaran. Bagaimana aku dapat mengetahui kebenaran jika bukan Engkau sendiri yang menunjukkannya padaku?" Aku mencoba menjelaskan kepada Allah supaya Dia tidak marah dengan pikiranku. "Ya Allah, aku bingung. Setiap orang mengatakan dirinya benar: Hindu, Buddha, dan Muslim. Jalan manakah jalan kebenaran untuk datang kepada-Mu? Mereka semua mengatakan bahwa agama apa pun adalah jalan datang kepada Tuhan, semua kecuali Yesus. Ia mengatakan Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa (Allah), kalau tidak melalui Aku.1 Bagaimana jika Ia benar dan aku salah?" Aku harus mencari kebenaran itu. "Ya Allah," aku meneruskan, "aku ingin mencoba Yesus dan jika Ia tidak benar, maka aku akan bertobat dan kembali ke Islam. Allah kumohon Engkau mengerti kebingunganku dan tidak menjadi marah padaku jika aku berlaku bodoh."

Aku berlutut di sebelah tempat tidurku dan berdoa dalam bahasa Persia. Aku berkata pada Yesus, "Yesus, jika Engkau sungguh satu-satunya jalan dan Anak Allah, berikan bukti-Mu kepadaku dan jika aku mengetahui Engkaulah kebenaran, aku akan mengikuti Engkau, meskipun hal itu akan mengorbankan seluruh hidupku. Ubah aku Yesus, ampuni atas semua dosaku."

Tak lama kemudian aku menjumpai ayat dalam Injil : Yesus berkata, Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.2Perkataan-perkataan Yesus ini berbicara dalam hatiku dengan begitu berkesan. Aku memahami apa yang dikatakan Yesus. Aku memperhatikan ayahku, agamaku, teman-temanku, hidupku sendiri, buah hasil kepercayaan dan tindakan kami. Aku merenungkan buah hasil kepercayaan agama kami sepanjang sejarah. Aku belum pernah bisa melihat hasil buah-buah itu sebelumnya. Aku mencoba memahaminya tetapi semua sangat membingungkan. Sekarang aku dapat memahaminya! Sesuatu perubahan terjadi dalam hatiku pada hari itu ketika aku berlutut dan memanggil Nama Yesus. Aku dapat kemampuan untuk melihat kebenaran. Kejadian itu seperti ada selaput yang menutupi mataku selama ini menjadi terlepas dan mataku terbuka.

Salah satu masalah terberat bagiku sebelumnya adalah menerima bahwa Yesus adalah Anak Allah. Aku tidak dapat mengertinya dengan pikiranku. Bagaimana mungkin Allah mempunyai anak dan jika hal itu mungkin, bagaimana mungkin manusia membunuh Anak-Nya? Alkitab berkata: Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: 'Yesus adalah Tuhan', selain oleh Roh Kudus.3 Sesuatu telah terjadi padaku yang tidak dapat kujelaskan. Tiba-tiba tidak terlalu sukar untuk percaya bahwa Allah mengirim Yesus, yang adalah Dia sendiri, menjadi manusia, menjadi domba yang sempurna tanpa cacat, dan kurban sempurna untuk dosa-dosa dunia.

Sekarang aku dapat mengerti Alkitab, kata-kata dari Yesus. Aku tidak lagi meragukan dalam hatiku bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang sempurna, dari awal sampai akhir. Hal itu seperti aku melihat segala sesuatunya dari cahaya yang berbeda. Betapa aku merasa bahwa aku dahulu buta dan sekarang aku menerima penglihatan. Beban yang aku punyai telah terangkat dan kebingunganku hilang.

Aku tidak pernah melupakan hari itu, ketika aku bangun dan menyadari bahwa aku tak perlu lagi melakukan sembahyang subuh dalam bahasa Arab menghadap ke Mekah. Alangkah leganya aku. Aku dapat berdoa dalam bahasaku sendiri, pada segala waktu, dan pada segala arah yang kuingini. Betapa berbahagia aku terbebas dari puasa selama bulan Ramadhan, khususnya di Swedia di mana matahari terbit selama 23 jam sehari pada musim panas. Oh, betapa luar biasa bebasnya aku. Di atas semua itu, kebingunganku lenyap. Oh, aku merasa sangat baik.

Pernahkah engkau tersesat di suatu tempat yang tidak dikenal dan setelah mencari-cari akhirnya engkau temukan jalan yang benar? Bagaimana perasaanmu? Legakah? Itulah yang kurasakan. Betapa aku dapat bernafas lebih baik. Aku dapat menghirup udara. Aku seperti telah berada dalam tahanan yang tertutup dan gelap dan kemudian dibebaskan. Aku menghirup aroma kebebasan. Aku menerima kekuatan baru. Aku mempunyai gairah hidup kembali. Oh, betapa luar biasa yang kurasakan. Aku merasa seperti tersesat di padang gurun dan mencari air dan sekarang menemukan sungai yang segar dan air kehidupan. Itu sungguh menyegarkan. Aku dapat mendengar suara angin dan merasakannya seakan tidak pernah terjadi sebelumnya. Aku serasa dilahirkan kembali, dalam jiwaku, tubuhku, dan hatiku. Sekarang aku memiliki HIDUP SEJATI! Sikapku terhadap orang-orang telah berubah. Kebencian dan kepahitan telah lenyap. Sebelumnya aku sangat membenci orang-orang tanpa sebab. Semua hal itu lenyap. Hanya ada kedamaian dan ketenangan baru di dalam diriku. Aku menerima kesukaan. Itu lebih dari sekedar kegembiraan. Ini benar-benar sukacita yang tidak dapat kulukiskan. Hanya dapat kurasakan. Lebih daripada itu, aku benar-benar jatuh cinta pada Yesus. Ia menjadi begitu dekat dan penting bagiku. Aku dapat mendengar Ia berbicara melalui Alkitab. Jika Ia melakukannya, aku merasa bahwa aku adalah orang yang sangat penting. Aku tidak perlu menderita dan berbuat baik untuk dicintai oleh-Nya dan untuk menjadi dekat dengan-Nya. Ia ada di sana untuk mengangkatku dari lubang.

Suatu malam aku membaca dan merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil, aku membaca bagian ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan malam pada malam Ia diserahkan kepada orang-orang munafik. Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: 'Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.' 4Aku merenungkan bagian Injil ini ketika aku mendengar Ia berkata-kata padaku. Itu bukanlah suara yang keras, tetapi suara yang lembut di dalam diriku, kata-Nya, "Reza, ini tubuh-Ku yang dipecahkan di Salib karena kamu". Itu bukan suara yang menyalahkan, dan tidak membuatku merasa bersalah. Tidak, itu adalah tangisan kasih yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Yesus begitu mengenalku secara pribadi sampai-sampai aku mengira hanya untukkulah Yesus mati di Salib. Airmataku meleleh dan aku menangis seperti anak kecil. Penuh dengan suka cita yang daripada Allah, aku merasa diterima seperti apa adanya aku, untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Aku sedemikian berbahagia dengan perubahanku sehingga aku ingin menceritakannya kepada seluruh dunia. Kadang kala aku ingin berdiri di depan orang banyak dan berteriak pada orang-orang, "Jangan sedih hati! Yesus dapat mengubah hidupmu!"

Aku sering bertanya dalam hatiku kenapa aku tidak mengetahui apa pun tentang Yesus pada masa kecilku. Kenapa aku berdebat sedemikian banyak dengan orang-orang Kristen itu dan menolak apa yang mereka katakan? Di manakah orang-orang seperti Lars dan Borje ketika aku acapkali melarikan diri dari rumah dan menangis pada Tuhan serta meragukan apakah Ia mendengarkan doaku? Kenapa tidak seorang pun berkata padaku tentang Yesus selama tahun-tahun di mana aku mencari? Aku mencari Tuhan. Kenapa tidak banyak orang Kristen di tanah airku untuk mengatakan padaku tentang Yesus?

Aku segera mengatakan pada orang-orang tentang kepercayaanku. Aku bersaksi di mana pun aku mampu. Orang-orang Kristen akan memberiku waktu 10-15 menit dalam pertemuan mereka untuk bersaksi, tetapi sering aku berbicara melebihi waktu itu. Aku lebih bersukacita bersaksi kepada kaum Muslim daripada di gereja karena tidak ada batasan waktu. Dan mereka bereaksi, mereka akan tidak mau mendengar atau akan berdebat denganku berjam-jam.

Banyak dari sahabat-sahabat lamaku menertawaiku dan membuat banyolan dariku. Hal itu tidak menghalangiku. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang orang-orang pikirkan tentang aku asalkan aku diterima oleh Tuhan. Aku hanya ingin memberikan pada orang-orang dari negaraku, khususnya kaum Muslim, suatu kesempatan untuk mendengarkan semua pekerjaan dari Juruselamatku. Aku tidak dapat diam dengan iman dan kecintaanku pada Yesus. Aku kira akan mengatakan pada semua orang tentang perubahanku, semua orang kecuali keluargaku. Aku takut akan reaksi mereka.

Masih ada sedikit ketakutan tertinggal dalam hidupku meskipun aku telah menerima Tuhan Yesus dan telah terbebas dari Islam. Suatu malam aku mendapat mimpi buruk. Aku setengah terbangun di tengah malam. Lampu tergantung di atas tempat tidur kelihatan seperti jejadian. Sesuatu mendarat di dadaku. Aku merasa seperti sebuah pesawat telah mendarat padaku. Aku sangat takut, gemetar, dan berkeringat dingin di tempat tidur. Aku merasa kehadiran sesuatu yang jahat. Aku tidak tahu apa itu tetapi aku tahu Nama Yesus dapat membebaskanku. Aku ingin berteriak 'Yesus' tetapi mulutku terkunci. Aku tetap berbisik 'Yesus' dalam pikiranku, akhirnya mulutku terlepas dan aku berteriak mengusir setan dalam Nama Yesus. Benda itu meninggalkanku dan aku tidak pernah punya masalah ketakutan seperti itu lagi.

Sekitar setahun setelah perubahanku, ketika aku berjalan ke rumah, aku mendengar Allah berbicara padaku. Ia mengatakan padaku untuk menulis pada orang tuaku dan mengatakan pada mereka tentang perubahanku. Ketika aku sampai di rumah, aku mendapati surat dari ibuku di kotak pos. Aku mematuhi Tuhan dan menjawab surat ibuku. Aku menulis surat enam halaman pada keluargaku menceritakan pada mereka tentang imanku yang baru dalam Kristus. Aku secara khusus memohon dengan sangat pada mereka agar tidak berpikir bahwa aku gila. Ide untuk menjadi Kristen akan sangat tidak dapat dimengerti oleh mereka. Mereka akan berpikir secara alamiah bahwa aku telah kehilangan akal. Aku mengirimkan surat tersebut ke Iran dan percaya pada Tuhan.

Dua minggu kemudian aku menerima panggilan telepon dari Iran. Saudariku yang tertua menelepon. Ia sangat berduka dan ingin tahu apakah aku sehat. Ia bertanya apakah aku telah kehilangan akal, "Apakah kamu sinting? Apa maksudmu menjadi Kristen? Seorang Muslim tidak dapat pindah ke agama lain," katanya, "sejak ibu menerima suratmu, ia terus-menerus menangis dan berbicara pada potretmu," lanjutnya. "Ibu akan menjadi gila karena kamu, Reza. Tidakkah cukup kau meninggalkan kami dan menghancurkan hatinya? Lihatlah apa yang kamu kerjakan padanya. Ia akan dapat sakit hati karena kamu dan jika ayah tahu hal ini, kami takkan punya kedamaian di rumah. Bertobatlah dan kembalilah. Siapa orang-orang yang menekanmu untuk berubah agama?" Dan ia terus berbicara seperti itu selama beberapa waktu.

Kabar tentang kondisi ibuku sangat menyusahkanku. Aku tidak ingin melukai hatinya, khususnya setelah ia telah menjalani hidupnya bersama ayahku. Aku berdoa pada Yesus. Ini adalah waktu yang sangat sukar untukku.

Tidak lama setelah panggilan telepon tersebut, aku menerima panggilan telepon yang lain. Kali ini dari Konsulat Iran di Stokholm. Konsul berbicara dan menanyakan apakah aku sehat fisik dan mental. "Ya," jawabku, dalam hatiku bertanya-tanya kenapa mereka mendesakku. Mereka menjelaskan bahwa mereka menerima telegram dari keluargaku yang mengatakan aku sakit mental dan perlu dirawat di rumah sakit. Untunglah dia dapat menerima kata-kataku bahwa aku tidak pernah sesehat ini!

Akhirnya aku menerima surat dari ayahku. Ia telah mengetahui apa yang telah terjadi. Ia tidak mengakui aku sebagai anaknya lagi. Aku dilarang keras untuk berhubungan dengan keluargaku selama aku menyatakan diri sebagai Kristen. Ia memperhitungkan aku sebagai pengkhianat. Tidak hanya keluargaku yang memutuskan hubungan, melainkan teman-temanku juga memandang rendah padaku dan menuduhku mendapat bayaran dari CIA untuk menyebarkan ke-Kristenan. Kadang-kadang, secara humor, mereka menanyaiku berapa aku dibayar untuk menjadi Kristen.